menapic.com – Industri baja dalam negeri tengah menghadapi tantangan berat akibat banjir produk impor. Pemerintah Indonesia, sebagai respons, mengambil langkah untuk membuka peluang investasi asing, termasuk menarik minat investor dari Eropa, China, dan Vietnam untuk mendirikan pabrik di dalam negeri.
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima banyak tawaran dari investor yang ingin merelokasi pabrik bajanya ke Indonesia. “Kami minta agar mereka berinvestasi dan membangun pabrik di sini, sehingga bisa memiliki akses ke pasar domestik,” ujarnya usai Rapat Dengar Pendapat di DPR RI, Jakarta.
Namun, suara kritis muncul dari pengusaha lokal, seperti CEO PT Inerco Global International, Hendrik Kawilarang Luntungan. Ia menegaskan bahwa fokus pemerintah seharusnya tidak hanya menarik investor asing, tetapi juga menciptakan wirausahawan baru yang berorientasi pada industri manufaktur. Hendrik menyoroti pentingnya bimbingan pemerintah dalam mengembangkan pengusaha baru, sebagaimana yang dilakukan di China, Jepang, dan Korea.
Ia juga menekankan bahwa masalah utama terletak pada sistem penyaluran kredit perbankan yang lebih menguntungkan pengusaha besar. “Penyaluran kredit sering kali hanya untuk pengusaha besar atau mereka yang memiliki koneksi politik, sehingga tidak ada pemerataan dan sulit lahir pengusaha baru,” jelasnya.
Hendrik berpendapat bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di angka 5 persen, negara perlu menciptakan konglomerasi-konglomerasi baru di luar yang sudah ada. “Kita perlu mendiversifikasi kepemilikan industri, bukan hanya melihat mall atau hotel baru yang selalu dimiliki oleh orang yang sama,” tutupnya.