menapic.com – Pelemahan daya beli masyarakat menjadi batu kerikil bagi sektor properti di Indonesia hingga kuartal III tahun 2025. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) menunjukkan tanda-tanda perlambatan, dengan pertumbuhan hanya 0,9 persen secara tahunan pada kuartal II/2025, menurun dari 1,76 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Aqil Triyadi, analis dari Panin Sekuritas, menjelaskan bahwa kondisi ini disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk kebijakan fiskal pemerintah dan langkah-langkah moneter dari bank sentral. Ia menggarisbawahi adanya masalah struktural dalam pasar tenaga kerja yang turut mempengaruhi kemampuan konsumen dalam membeli rumah. Hanya 824 ribu lapangan kerja baru yang diciptakan pada 2024, sementara penambahan angkatan kerja mencapai 3-4 juta orang setiap tahunnya. Hal ini menciptakan persaingan di dunia kerja yang semakin ketat, mengakibatkan keterbatasan daya beli masyarakat.
Menyusul tren negatif tersebut, proporsi pekerja penuh waktu di Indonesia juga mengalami penurunan, yakni menjadi 66,19 persen pada Februari 2025. Sementara itu, jumlah pekerja yang tergolong setengah menganggur meningkat menjadi 25,81 persen. Situasi ini berpeluang untuk memperburuk prospek pasar properti jika tidak ditangani dengan tepat.
Aqil menekankan bahwa untuk mendorong pertumbuhan sektor properti ke depan, diperlukan intervensi yang lebih efektif dari pemerintah dan institusi terkait. Tanpa langkah-langkah yang terencana, sektor ini mungkin masih akan menghadapi tantangan serupa di masa mendatang.