menapic.com – PT Multicrane Perkasa (MCP) menegaskan pentingnya peran alat berat dalam keberhasilan proyek pengolahan limbah menjadi energi listrik atau waste to energy (WtE) yang dijalankan oleh pemerintah. Adrianus Hadiwinata, Presiden Direktur MCP, mengungkapkan bahwa pengembangan WtE menjadi krusial mengingat timbulan sampah di Indonesia mencapai ratusan ribu ton per hari.
Adrianus menjelaskan bahwa keberhasilan proyek tidak hanya mengandalkan teknologi pembangkit tetapi juga kesiapan sistem operasional di lapangan. Selain itu, pemerintah mendorong pengembangan WtE dan Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bagian dari strategi pengelolaan sampah serta energi nasional.
Menurutnya, tanpa dukungan alat berat dan sistem pengelolaan limbah yang efisien, fasilitas WtE dapat mengalami berbagai masalah, seperti aliran limbah yang tidak stabil, downtime tinggi, dan biaya operasional yang meningkat. MCP, yang saat ini mendukung proyek WtE di Sukabumi, Jawa Barat, mengimplementasikan teknologi crane Hiab 19000 sebagai pengganti metode konvensional yang menggunakan excavator diesel.
Sistem pengelolaan berbasis listrik tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas aliran limbah, menekan biaya operasional, serta meminimalkan gangguan teknis. Dalam konteks yang lebih luas, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebut bahwa sektor WtE memiliki potensi investasi tinggi dengan estimasi kebutuhan dana mencapai Rp91 triliun untuk pembangunan stasiun Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik di 33 kota.
Proyek ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pengelolaan 1.000 ton sampah per hari dan menjawab tantangan limbah di Indonesia, serta memberikan sumbangsih signifikan terhadap transisi energi baru terbarukan.