menapic.com – Penelitian terbaru mengungkap bahwa pemilik mobil listrik di Indonesia sebagian besar berasal dari kalangan kelas menengah atas yang sebelumnya sudah memiliki kendaraan konvensional. Riset ini dilakukan oleh firma hubungan masyarakat dan komunikasi ID COMM dan diumumkan di Jakarta pada Kamis.
Asti Putri, salah satu pendiri ID COMM, menyatakan bahwa mobil listrik bukanlah pilihan pertama bagi kebanyakan pemiliknya. Berdasarkan hasil riset, transisi ke mobil listrik menunjukkan pergeseran perilaku konsumen yang signifikan, bukan hanya perluasan pasar. Informasi ini dianggap penting bagi stakeholder di sektor otomotif.
Motivasi utama konsumen untuk beralih ke mobil listrik adalah faktor ekonomi. Biaya operasional yang lebih rendah, ditambah dengan insentif pajak dari pemerintah, menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, banyak responden mengaku merasa bangga menggunakan kendaraan yang dipandang modern dan inovatif. Namun, faktor lingkungan bukanlah alasan utama yang mempengaruhi keputusan pembelian.
Harga mobil listrik bervariasi antara Rp189 juta hingga Rp1,58 miliar, dengan pasar masih didominasi oleh individu berusia 25 hingga 50 tahun yang memiliki mobilitas tinggi. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan peningkatan jumlah kendaraan listrik berbasis baterai dari 15.318 unit pada 2023 menjadi 43.188 unit pada 2024.
Meskipun ada peningkatan, perluasan segmen pasar untuk mobil listrik masih dianggap terbatas. Asti menekankan bahwa untuk memasuki fase lebih luas, dibutuhkan kebijakan yang konsisten dan edukasi publik mengenai manfaat serta reliabilitas layanan kendaraan listrik.