menapic.com – Penguatan nilai tukar rupiah menjadi sorotan penting seiring dengan dampak dari potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) di akhir tahun. Pada pembukaan perdagangan hari Jumat di Jakarta, rupiah tercatat menguat sebesar 15 poin atau 0,09 persen, menjadi Rp16.620 per dolar Amerika Serikat dibandingkan sebelumnya yang berada di Rp16.635.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa penguatan ini terjadi setelah The Fed mengindikasikan sikap hati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut. Meskipun demikian, kemungkinan pemangkasan suku bunga di akhir tahun ini atau awal tahun depan tetap positif bagi pasar aset berisiko, termasuk negara-negara berkembang.
Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan lalu, The Fed memutuskan untuk memangkas Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4 persen, yang diwarnai oleh dua pendapat berbeda dari anggota rapat. Satu anggota mendukung penurunan yang lebih besar, sementara yang lainnya lebih memilih untuk mempertahankan suku bunga.
Sentimen positif terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh pertemuan antara Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping. Pertemuan yang berlangsung di Busan, Korea Selatan, membahas isu-isu ekonomi dan perdagangan. Kedua pihak telah bertukar pandangan secara mendalam dan mencapai kesepakatan terkait beberapa masalah.
Ariston Tjendra menambahkan bahwa pergerakan rupiah berpotensi menguat menuju level Rp16.580, dengan kemungkinan resisten di Rp16.650. Dengan perkembangan ini, masyarakat dan pelaku pasar diharapkan dapat memantau situasi yang dinamis dalam perekonomian global.