menapic.com – Meta Platforms, yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg, menghadapi tantangan serius dalam membuktikan bahwa investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) senilai lebih dari Rp2.000 triliun pada tahun 2026 tidak akan sia-sia. Meskipun meta meraih angka tinggi di atas kertas, kenyataannya perusahaan ini kesulitan untuk menarik minat pengguna untuk menggunakan fitur AI mereka.
Dalam konteks ini, penggunaan AI oleh Meta jauh tertinggal dibandingkan dengan OpenAI, yang berhasil meraih 900 juta pengguna aktif mingguan melalui ChatGPT. Sebaliknya, Meta hanya mampu mencatatkan miliaran pengguna yang berinteraksi dengan AI karena fitur tersebut disisipkan secara paksa dalam aplikasi seperti WhatsApp dan Instagram, bukan karena pilihan mereka. Pengguna cenderung membuka ChatGPT untuk mencari asisten pintar, sementara interaksi dengan AI dari Meta lebih bersifat pasif, hanya sekadar lewat.
Alex Kantrowitz, pendiri Big Technology, menggarisbawahi hal ini dengan menyatakan bahwa terdapat kesenjangan mencolok antara belanja modal Meta yang mengesankan dan realita di lapangan. Menurutnya, perbedaan ini bisa menjadi sinyal bahaya bagi masa depan perusahaan di tahun 2026. Kantrowitz menekankan bahwa meskipun Meta berinvestasi besar-besaran, tanpa daya pikat yang jelas bagi pengguna, upaya tersebut mungkin berujung pada kekecewaan.
Dengan kritik yang mengemuka, penting bagi Meta untuk meninjau strategi dan pendekatannya agar dapat memenuhi harapan dan kebutuhan pengguna, sebelum terlambat. Perusahaan harus mencari cara untuk menciptakan pengalaman pengguna yang lebih menarik dan relevan agar dapat bersaing di pasar AI yang semakin ketat.