menapic.com – Serangan menggunakan teknologi AI terhadap sebuah sekolah di Iran pada 28 Februari mengakibatkan 175 warga sipil tewas, termasuk lebih dari 100 anak di bawah usia 12 tahun. Insiden tragis ini menimbulkan pertanyaan global tentang penggunaan kecerdasan buatan untuk keperluan militer.
Rudal Tomahawk yang dipandu AI menghancurkan Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran selatan. Menurut data dari PBB dan otoritas Iran, serangan ini adalah hasil dari kesalahan penargetan oleh militer Amerika Serikat. Investigasi awal oleh Pentagon menunjukkan bahwa sekolah tersebut sebelumnya berada di lahan pangkalan militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Namun, pembangunan tembok pemisah yang dilakukan antara tahun 2013 hingga 2016 telah memisahkan lokasi sekolah dari pangkalan tersebut.
Citra satelit yang dirilis oleh Amnesty International juga menunjukkan bahwa sekolah tersebut telah beroperasi secara independen, dengan situs web dan akun media sosial yang aktif. Sistem penargetan Cerdas Maven, yang dikembangkan oleh perusahaan Palantir dalam kontrak senilai $1,3 miliar, digunakan dalam operasi ini. Maven menggabungkan data satelit, radar, dan sinyal intelijen untuk mengklasifikasikan target, menghasilkan paket serangan udara secara real-time.
Namun, beberapa mantan pejabat militer AS menegaskan bahwa kesalahan manusia, bukan teknologi AI, menjadi penyebab utama serangan tersebut. Data yang tidak diperbarui tentang lokasi sekolah yang menggantikan pangkalan militer menyebabkan misfire yang fatal ini. Dmytro Matviyuk, seorang ahli drone, menyatakan bahwa inti permasalahan bukanlah pada kemampuan AI, tetapi pada pengelolaan data yang kurang tepat. Insiden ini menjadi pengingat akan risiko yang mungkin ditimbulkan oleh penerapan teknologi canggih dalam konteks militer.