menapic.com – Penjualan minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan akan mengalami penurunan drastis hingga 50% pada bulan Mei 2026. Penurunan ini disebabkan oleh terganggunya jalur pasokan akibat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, khususnya terkait dengan situasi di Iran. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global, serta lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang mempengaruhi penurunan ini.
Menurut informasi yang diperoleh dari sejumlah pedagang, pengiriman minyak Arab Saudi ke China akan berkurang menjadi sekitar 20 juta barel pada Mei 2026, dibandingkan dengan 40 juta barel pada bulan April. Para pedagang yang terlibat dalam rencana pengapalan ini mengkonfirmasi bahwa kondisi ini merupakan dampak langsung dari ketegangan yang terjadi di wilayah tersebut.
Krisis yang berkaitan dengan Iran telah mengacaukan distribusi energi global, menghambat arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Hal ini tidak hanya mempengaruhi pengiriman ke China, yang merupakan pasar utama bagi minyak Arab Saudi, tetapi juga memaksa eksportir untuk melakukan penyesuaian dalam alokasi pasokan minyak secara keseluruhan. Situasi ini menambah tantangan bagi industri energi yang telah terpengaruh oleh berbagai faktor eksternal.
Penurunan yang signifikan dalam penjualan minyak ini menunjukkan betapa rentannya pasar energi global terhadap konflik geopolitik. Langkah-langkah strategis perlu diambil oleh eksportir untuk mengatasi keadaan ini dan meminimalkan dampak lebih lanjut terhadap keseluruhan rantai pasokan energi.